Skip to main content

Kebergantungan Akademis



Struktur Kebergantungan Akademis dan Pembagian Kerja Global Ilmu Sosial
Bab ini mencoba  menjelasakan ekonomi politik ilmu social agar bias menilai keadaan ilmu social pada tingkat global. Fokusnya adalah relasi antara ilmu social di dunia pertama dan ketiga. Pendekatan ekonomi politik yang digunakan adalah teori kebergantungan akademis. Literatur ilmu social dan humaniora dalam dua abad terakhir, teerutama lima puluh tahun belakangan, mengeluhkan keadaan pengetahuan dalam bidang ilmu-ilmu budaya di Dunia Ketiga. Yang disorot adalah berbagai masalah yang dapat digolongkan dalam konsep, ekspresi, dan gerakan seperti kritik terhadap kolonialisme. Di bab ini memfokuskan pada kebergantungan akademis dan masalah yang terkait, yaitu pembagian kerja global dalam ilmu social. Dan penjelasan mengenai struktur dan mengusulkan langkah-langkah untuk membalikkan kebergantungan akademis.

Ø  Definisi Kebergantungan Akademis
Setiap usaha mendefinisikan kebergantungan akademis harus mengacu pada diskusi sebelumnya, mengenai ide tentang imperialisme akademis atau intelektual. Secara umum imperialism atau empireisme dipahami sebagai kebijakan dan praktek dominasi politik dan ekonomi di wilayah jajahan oleh bangsa yang maju sejak abad 16 melalui penaklukan dan penundukan militer. Dunia akademik juga bias bersifat imperialistic, apabila control dan manajemen jajahan membutuhkan pengelolaan dan penerapan berbagai disiplin seperti sejarah, linguistic,geografi, ekonomi, sosiologi, dan antropologi di daerah koloni. Dalam dokumen penelitian, kita lihat bahwa ilmuwan social, diantaranya antropolog dan geographer, mengabdi pada kepentingan colonial melalui pemecahbelahan dan penguasaan. Tetapi harus dicatat juga bahwa tidak semua ilmuwan colonial digerakan sepenuhnya oleh aspirasi colonial.
Imperialism akademis adalah sebuah fenomena yang analog dengan imperialism ekonomi dan politik. Terdapat relasi-relasi imperialistic di dunia ilmu social yang parallel dengan relasi imperealistik di dunia ekonomi politik internasional. Imperialism akademis dalam pengertian tadi dimulai dengan mendirikan dan mengontrol langsung sekolah, universitas, dan penerbit-penerbit di daerah koloni oleh kuasa-kuasa colonial. Fakta tersebutlah yang melandasi bagaimana struktur ekonomi-politi imperialism menimbulkan struktur yang parallel dalam cara berfikir penduduk di daerah jajahan. Jika pada masa colonial lalu imperialism akademis dipelihara melalui kekuatan colonial, saat ini neocolonial dipertahankan melalui kondisi kebergantungan akademis. Control dan pengaruh kolonialistik barat terhadap ilmu-ilmu social dunia ketiga tidak ditentukan oleh kekuatan colonial semata. Akan tetapi juga dipengaruhi oleh kebergantungan para ilmuwan dan intelektual dunia ketiga pada ilmu social barat melalui berbagai cara.
Ø    Struktur Kebergantungan Akademis
Teori-teori pembangunan system dunia, teori kebergantungan, dan teori-teori marxis secara umum memandang kebudayaan, termasuk ilmu social sebagai cermin hierarki ekonomi dunia. Penyebaran kebudayaan dan bentuk-bentuk pengetahuan barat, atau imperialism budaya, membantu melanggengkan ketidaksetaraan global hingga pada taraf bangsa-bangsa ketiga dipersiapkan secara budaya dan ideology untuk menerima barang-barang, pelayanan, teknologi, dan bantuan dari barat. Sesungguhnya pandangan bahwa kebudayaan memainkan peran sekunder dalam reproduksi kapitalisme global sebagian ikut menyebabkan pengabaian telaah tentang dinamika internal ilmu social dunia. Menurut ekonomi klasik, ilmu social beroperasi mengikuti asas laissez-faire. Komunitas ilmiah dan perluasanya, komunitas ilmiah social dipandang berfungsi berlandaskan kompetisi sempurna. Namun, teori kebergantungan akademis mengakui ketidakseimbangan dalam produksi ilmu social diseluruh masyarakat dan pembagian kerja yang dihasilkan antara produsen dan konsumen pengetahuan semacam itu. Ini menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi yang besar juga merupakan kekuatan ilmu social yang besar pula. Kebergantungan akademis adalah sebuah teori tentang kondisi kebergantungan global ilmu-ilmu social. Kesejajaran antara teori kebergabtungan akademis dan teori kebergantungan ekonomi sudah jelas hingga logis jika kini kita berupaya mendefinisikan kebergantungan akademis dengan memulai dari definisi mengenai kebergantungan ekonomi. Dimensi-dimensi kebergantungan akademis dapat dikemukakan sebagai berikut :
1.      Kebergantungan pada gagasan
2.      Kebergantungan pada media gagasan
3.      Kebergantungan pada teknologi pendidikan
4.      Kebergantungan pada bantuan riset dan pengajaran
5.      Kebergantunganpada investasi pendidikan
6.      Kebergantungan ilmuwan social Dunia Ketiga pada permintaan Barat akan keterampilan mereka.
Kebergantungan pada Gagasan
            Dimensi pertama merujuk pada kebergantungan diberbagai tingkatan teoi ilmiah social, yakni metateori, teori, ilmu social empiris, dan ilmu social terapan. Kebergantungan pada ide adalah kondisi umum pengetahuan di dunia ketiga. terkait  dengan ide dari Barat adalah asumsi bahwa tidak ada yang perlu dipelajari dari karya-karya Asia. Kebergantungan pada gagasan adalah dimensi paling penting dari kebergantungan akademis.
Kebergantungan pada Media Gagasan
            Dimensi kedua merujuk pada media gagasan seperti buku, jurnal ilmiah, prosending knferensi, kertas kerja, dan berbagai jenis publikasi elektronik. Dalam hal buku, jurnal dan terbitan berkala lainnya, para penerbit dan distributor yang lebih mapan berlokasi di Barat, dengan Dunia Ketiga sebagai pengimpor materi-materi bacaan asing. Jaringan distribusi antara pusat dan pinggiran telah berkembang dengan baik selama bertahun-tahun, sedangkan distribusi antara negara-negara Dunia Ketiga sendiri kurang berkembang.
Kebergantungan pada Teknologi Pendidikan
            Dalam relasi kebergantungan ilmu-ilmu social, terlihat pula adanya dimensi teknologi. Kedubes, yayasan, dan lembaga nonpemerintah Barat sering mendirikan pusat-pusat informasi di Negara-negara Dunia Ketiga, dilengkapi dengan system pencarian informasi mutakhir, yang pada umumnya tidak ditemukan di universitas dan institusi local. Relasi teknologi merupakan dimensi yang sangat penting dalam relasi kebergantungan ilmu-ilmu social.
Kebergantungan pada Bantuan Riset maupun Pelatihan
            Dimensi keempat terkait dengan kebergantungan bantuan dalam bentuk dana dan bantuan dan bantuan teknis asing yang berasal dari pemerintah, intitusi pendidikan, dan yayasan-yayasan di AS, Inggris, Prancis, Jerman, Belanda, dan Jepang, yang secara rutin diterima oleh para ilmuwan dan institusi pendidikan di Dunia Ketiga. Berbagai organisasi pemerintah maupun yayasan Korporasi di dunia maju memainkan peran penting dalam soal pelatihan ilmuwan Dunia Ketiga. hal ini dipastikan dapat menimbulkan kebergantungan akademis para ilmuwan Dunia Ketiga terhadap dunia barat.
Kebergantungan pada investasi Pendidikan
            Dimensi kelima kebergantungan akademis merujuk pada inventasi langsung institusi pendidkan Barat di Dunia Ketiga. contohnya adalah berbagai program gelar yang ditawarkan universitas-universitas barat kepada para ilmuwan di Dunia Ketiga. Dimensi kebergantungan akademis ini dikemukakan dengan menarik garis antara korporasi multinasional dengan ilmu pengetahuan. Kebergantungan komunitas akademis Dunia Ketiga pada lembaga dan intitusi ilmu social Dunia Pertama melalui lima dimensi yang disebutkan tadi merupakan relasi vertical yang menjadi dasar ilmu social global. Relasi vertical dianggap merintangi tumbuhnya ide orisinal dan independen, mempromosikan ideology prokapitalis, dan menundukan Negara-negara Dunia Ketiga pada kebijakan pembangunan yang mendukung globalisasi capital.
Kebergantungan Ilmuwan Dunia Ketiga pada Permintaan Barat akan Keterampilan Mereka
            Disini muncul spekulasi menarik tentang bagaimana kebergantungan akademis dipengaruhi oleh perubahan dalam keseimbangan kekuatan ekonomi. Hegemoni global kebudayaan barat adalah hasil dari dua abad dominasi politik dan ekonomi.
Ø    Pembagian kerja global ilmu social
            Neokolonialisme akdemis dipelihara melalui kondisi kebergantungan akademis, yang telah dijelaskan lewat enam dimensi tadi. Klaim bahwa neokolonialisme akademis merupakan sebuah fenomena yang mendefinisikan relasi diantara komunitas-komunitas akademis Dunia Pertama dan Dunia Ketiga memperlihatkan adanya relasi ketidaksetaraan antara ilmu social barat pada satu sisi ilmu social Dunia Ketiga disisi lain. Jika kemajuan ilmu social didefinisikan sebagai perkembangan konsep orisinal, teori, model, dan metode yang secara kreatif diterapkan pada satu rentang situasi empiris, perbandingan, dan sejarah, serta dihasilkan secara bebas dan mengikutu criteria relevansi tertentu, maka bias dipahami bahwa pembagian kerja ilmu social sesungguhnya merintangi kemajuan. Pembagian kerja semacam itu justru melanggengkan kebergantungan dan neokolonialisme akademis.
Ø    Prospek Pembalikan Kebergantungan Akademis
            Dari pelbagai masalah yang dihadapi oleh ilmu social Dunia Ketiga, beberapa diantaranya terkait dengan manajemen dan administrasi. Masalah lain lebih bersifat intelektual, berkenaan dengan sejarah serta perkembangan ilmu social di Dunia Ketiga, serta beberapa masalah filosofis epistemologis yang menimpa ilmu social. Hal ini telah di identifikasi dalam berbagai telaah teoritis tentang keadaan ilmu social di masyarakat berkembang. Hal ini sebagian dikarenakan adanya struktur kebergantungan akademis. Banyak masalah konseptual dan praktis ilmu social yang khas di masyarakat berkembang seperti kebergantungan akademis, masalah relevansi, masalah keterbelengguan pikiran, dan lain-lain. Pendidikan imu social dan humaniora di masyarakat berkembang tidak boleh diremehkan. Harus disadari bahwa peradaban cina, india, dan islam telah memberikan benih-benih kontribusi pada  sains dengan membangun landasan-kuat filsafat dan teologi yang bertujuan mengembangkan insting kreatif. Agar ilmu-ilmu budaya dan humaniora dapat memainkan peran itu sekarang, pendidikan berkualitas di bidang tersebut juga harus disediakan.
Ø    Kelemahan Teori Kebergantungan Akademis
            Teori kebergantungan akademis menghadirkan pendekatan structural yang menarik untuk memahami relasi antara ilmu social dunia pertama dan ilmu social dunia ketiga. namun, teori kebergantungan akademis bukan tanpa kelemahan. Analoginya dengan teori kebergantungan ekonomi, misalnya, tidak selalu cepat. Misalnya, berkenaan dengan kebergantungan pada gagasan dan media gagasan, masalahnya sesungguhnya tidak terlalu bersifat structural, namun lebih disebabkan kurangnya perhatian. Menyangkut kebergantungan pada teknologi pendidikan, ini hanya akan menjadi masalah, jika teknologi pendidikan memang mecapai taraf yang dibutuhkan bagi perkembangan ilmu social. Tentu saja, teori kebergantungan akademis berguna untuk menyediakan keterangan structural mengenai aliran gagasan transnasional yang pemahamannya, bagaimanapun, tidak bias hanya terbatas pada aspek-aspek structural.
Ø    Elemen Retrotika dalam Penyebaran Global Ilmu Sosial
Keberhasilan program retrotika ilmu social bergantung pada kemampuannya menarik perhatian khalayak. Teknik-teknik retrotika apakah yang diusahakan, atau harus diusahakan oleh ilmu social agar penanamanya di Negara-negara Dunia Ketiga dilihat sebagai proyek yang abash dan memang dibutuhkan? Jawabanya bergantung pada kondisi para pembicara, juga isi pembicaraanya, guna mencapai kompromi dengan semua persyaratan situasi tertentu. Pertanyan selanjutnya, apakah apakah pandangan dunia khalayak ilmu social barat di Dunia ketiga? mungkin jawabanya, Positivisme dan countrism menjadikan khalayak ilmu social di Dunia Ketiga bersikap responsive terhadak teknik retrotika yang digunakan melalui penyebaran global ilmu-ilmu social.
Ø    Positivisme
Pengaruh positivism dapat diukur dari keberhasilan retrotika kuantifkasi Angka dan bentuk kuantifikasi lain banyak terdapat dalam ilmu social dengan mengatribusikan kalkulasi matematis pada objek realitas social. Hasil penelitian acap diproyeksikan secara berbeda melalui penggunaan berbagai jenis perbandingan dengan beralih pada angka mutlak dan presentase. Positivism juga telah membuat ilmuwan di Dunia Ketiga dikondisikan untuk menerima teknik retrotika yang dapat di istilahkan dengan teknisasi pembangunan.
Ø    Countrism dan Pengembangan Teknologi
Gelombang penentang terhadap ilmu social barat terkadang sangat rasional dan cosmopolitan, namun apabila dilakukan secara picik, tanpa sadar malah bergerak mendukung arus masuk teori Barat. Keunggulan ilmu social Amerika dan Barat di Dunia Ketiga bergantung tidak hanya pada kemampuannya untuk menghadirkan kecocokan yang baik antara teori dan praktik yang mungkin sebenarnya tidak relevan, tetapi juga pada kemampuanya menarik perhatian khalayak, yaitu para ilmuwan social di masyarakat berkembang. Konstruksi retorik dalam aktivitas-aktivitas ilmu social merupakan dimensi subjektif struktur kebergantungan akademik.

Comments

Popular posts from this blog

Strategi Perang dalam Kehidupan Sehari-hari

MENGKAJI HASIL STRATEGI. Wayan Supadno. *" Dulu, saat Perang Dunia ke ll.  Seorang Komamdan memimpin pertempuran, dikirim dan diterjunkan dengan pesawat jumlah 600 prajurit. Berangkat jam 2.00 pagi hari, perjalanan 2 jam ditargetkan jam 4.00 proses penerjunan prajurit. Agar sergapan tuntas. Ternyata karena ke arah timur beda waktu, saat di tempat tujuan sudah jam 6.00 pagi. Alhasil 70% prajurit gugur saat di atas ditembaki musuh dari bawah di pagi hari yang terang. Dampak strateginya tercipta 420 an istri prajurit jadi janda, 930 an anak prajurit jadi yatim. Itulah dampak fatal  jika salah keputusan strategi dari Komandan ". ujar Danrindam l/BB 22 tahun silam.* Pada kehidupan sehari - hari sesungguhnya banyak contoh konkret dari arti strategi, misal : 1. Seseorang kebiasaannya bukan investasi atau memutar dana pada usahanya, tapi menabung hingga jumlah sangat banyak. Tanpa disadari bahwa inflasi dengan bunga bank tabungan relatif sama. Artinya kurun waktu tertentu ...

Manfaat Daun Salam yang Belum diketahui Orang

BELAKANG RUMAH BANYAK BURUNG KUTILANG LIAR BERKICAU Wayan Supadno. *" Lho, kok banyak burung liar berkicau di sekitar rumah Jakarta. Rasanya aneh. Menyenangkan sekali. Kami suka dengan ini semua ". Itulah komentar Bapak dan Ibu, tamu di rumah Cibubur beberapa waktu lalu. Beliau pejabat teras (Eselon 1) di salah satu kemeterian yang beberapa bulan lagi mau pensiun. Ngajak diskusi hal kebunnya yang akan diurus serius saat pensiun nanti.* Karena bertanya hal itu lalu saya jelaskan detail awalnya. Bahwa saya begitu bahagianya saat melihat dan mendengar kicauan burung, apalagi banyak kompak membentuk koloni , mencari makan bersama sambil menyanyi bersahut - sahutan. Itulah hal tak ternilai. Lalu saya sengaja menanam tanaman yang buahnya disukai burung kutilang yaitu Salam. Saat berrbuah merah kecil - kecil banyak sekali, bagai mengundang burung liar hingga puluhan ekor jumlahnya. Agar benihnya ditebar di banyak tempat sehingga terjadi proses regenerasi yang baik bagi...

Sejarah Masyarakat Transmigrasi

MASA LALU DAN MASA KINI MASYARAKAT TRANSMIGRASI *" Kami sungguh bersyukur jadi bagian dari masyarakat transmigrasi. Karena kehidupan kami jauh lebih bahagia, sejahtera dan punya harapan untuk masa depan anak cucu kami kelak. Beda jauh dibanding masih belum jadi peserta transmigrasi. Inilah salah satu kebaikan Pak Harto yang diwariskan kepada kami orang - orang kecil. ", Itulah pernyataan yang sering saya dengar dari masyarakat transmigrasi karena pengalaman saya keliling ke desa - desa transmigrasi sudah lebih dari 100 daerah.* Saya pribadi mengaminkan atas banyak pernyataan serupa di atas. Karena kami sekeluarga bagian dari mereka. Orang tua saya dulu transmigrasi swakarsa mandiri tahun 1995. Kehidupan di Banyuwangi sebelum 1995 sangat memprihatinkan karena keterbatasan lahan hanya 0,3 ha saja atau biasa oleh pemerintah dijuluki petani gurem. Di balik keterbatasan itu tuntunan biaya hidup dan proses pendidikan kami selaku anak pasti sangat tidak cukup. Karena itulah ma...